PUISI SEBAGAI SULUK ATAU JALAN KERUHANIAN

PUISI SEBAGAI SULUK DALAM SASTRA MELAYU

Abdul Hadi W. M.


Salah satu fungsi puisi dalam estetika Melayu ialah sebagai suluk, yaitu jalan keruhanian. Ini tampak dalam syair-syair makrifat dan tauhid, atau syair-syair tasawuf seperti yang dikarang oleh Hamzah Fansuri dan para pengikutnya di Sumatra pada abad ke-16 dan 17 M. Dalam kesusastraan Jawa secara eksplisit karangan yang memaparkan ajaran dan pengalaman ahli tasawuf dalam menempuh jalan keruhanian disebut suluk.  Seperti tujuan tasawuf, tujuan sastra suluk ialah memaparkan jalan keruhanian para sufi untuk mencapai ”kesaksian bahwa tiada hakikat yang lebih tinggi selain Yang Satu, Allah subhana wa ta`ala”. Dalam perjalanan itu seorang ahli suluk mengalami keadaan-keadaan ruhani (hal) dan sampai pada tahapan ruhani (maqam) tertentu. Dalam Mantiq al-Tayr Fariduddin `Attar melukiskan tujuh maqam atau tahapan keruhanian itu sebagai  berikut : talab (pencarian), `isyq (cinta), ma`rifa (makrifat), istighna (kedamaian),  hayrat (ketakjuban), tauhid, dan terakhir – fana’, baqa dan faqir. 
Untaian bait dalam Syair Perahu adalah contoh bagaimana puisi berperan sebagai jalan keruhanian dan kendaraan menuju tauhid.


                        Inilah gerangan suatu madah
                        Mengarangkan syair terlalu indah
                        Membetuli jalan tempat berpindah
                        Di sanalah i’tiqad diperbaiki sudah

                        Wahai muda kenali dirimu
                        Ialah perahu tamsil tubuhmu
                        Tiada berapa lama hidupmu
                        Ke akhirat jua kekal diammu

                        Hai muda arif budiman
                        Hasilkan kemudi dengan pedoman
                        Alat perahumu jua kerjakan
                        Itulah jalan membetuli insan

                        Perteguh jua alat perahumu
                        Hasilkan bekal air dan kayu
                        Dayung pengayuh taruh di situ
                        Supaya laju perahumu itu

                        ...

                        La ilaha `illa Allah terlalu nyata
                        Tauhid makrifat semata-mata
                        Memandang yang gaib semuanya nyata
                        Lenyapkan ke sana sekalian kita

                        ...

                        La ilaha `illa Allah tempat mengintai
                        Medan yang qadim tempat berdamai
                        Wujud Allah terlalu bitai
                        Siang malam jangan bercerai

                        La ilaha `illa Allah tempat musyahadah
                        Menyatakan tauhid jangan berubah
                        Sempurnakan jalan iman yang mudah
                        Pertemuan (dengan) Tuhan terlalu susah

                                                      (Doorenbos 1933:35)


Dari syair ini dapat dicatat setidak-tidaknya: Pertama,  puisi merupakan jalan berpindah ke alam ketuhanan atau transendental.Tujuan penyair ialah memandang yang gaib (musyahadah) melalui jalan tauhid dan makrifat. Dengan demikian puisi dapat dikatakan sebagai sarana transendensi atau pembebasan jiwa dari kungkungan alam kebendaan (tajarrud).  Kedua,  puisi yang indah doitulis setelah penyair melakukan penyucian diri, yaitu membetulkan iktiqad. Ketiga, puisi juga merupakan perluasan zikir terhadap Allah (zikr Allah), yang dengan cara demikian seseorang mencapai musyahadah.Makrifat dan pencerahan kalbu adalah bentuk pengalaman estetis yang tinggi, yang hanya dapat dicapai melalu jalan zikr Allah. Keempat, penyair juga menyatakan bahwa keindahan wajah Tuhan dan hakikat Tauhid hanya bisa diaksikan di ’medan yang qadim’, yaitu di alam metafisik atau ketuhanan. Medan yang qadim dalam jiwa manusia mengambil tempat dalam kalbu. Para sufi menyatakan bahwa kalbu merupakan rahasia Tuhan (sirr Allah) dalam arti dalam kalbulah manusia bisa berdialog dengan Yang Maha Gaib. Itulah sebabnya dalam proses penyucian diri, kalbu mesti dikosongkan dari yang selain Tuhan. Kelima, penyair mengharap pembaca menjadikan puisi sebagai tangga naik menuju hakikat dirinya yang sejati. Perjalanan ruhani seorang ahli suluk di sini ditamsilkan sebagai pelayaran perahu dan perlengkapannya, sedangkan perahu adalah tamsil bagi tubuh manusia yang dibekali perlengkapan ruhani.


Terimakasih.

Masukan Alamat Emailmu Di Sini:

Pengikut