HARI PUISI INDONESIA: Perayaan dan Peluncuran Dua Buku Kumpulan Puisi

HARI PUISI INDONESIA
Perayaan dan Peluncuran Dua Buku Kumpulan Puisi
Tangan yang Lain karya Tia Setiadi
Obituari Rindu karya S. Arimba

Acara
Orasi Budaya
Pembacaan Puisi Chairil Anwar
Pembacaan Puisi Setiadi
Pembacaan Puisi S. Arimba
Musikalisasi Puisi

Tanggal & Waktu
Jum'at, 26 Juli 2013 pukul 15.00 WIB

Tempat
Indonesia Buku (I:Boekoe), Jl. Patehan Wetan No. 3, Kraton, Yogyakarta.

» Selengkapnya...

FORUM SASTRA JOMBANG; Senyum Ceria Ramadhan


FORUM SASTRA JOMBANG (ForSaMbang) bekerja sama dengan PIK-M GEMPITA STIKES ICME JOMBANG dan MEGA BINTANG Publishing mengadakan

1. BAZAR RAMADHAN 
2. RAMAH TAMAH SASTRA #4 FORUM SASTRA JOMBANG

Tema: "Puisi; Senyum Ceria Ramadhan"

Rabu, 17 Juli 2013
Pukul 16.00 - 18.00 WIB
Tempat: Halaman Omah MEGA BINTANG Publishing, Jalan K. H. Hasyim As'ari 28 Jombang (15 Meter Selatan Perempatan Mojosongo Jombang).

Turut mengajak teman-teman untuk berpartisipasi menuliskan satu judul puisi sesuai dengan tema. Serta, menuliskan biodata diri secukupnya. Karya puisi dikirimkan ke email: forsambang@yahoo.com.
Terima kasih.

Contact Person:
  • Anton Wahyudi (085646230330)
  • Muhammad Mak (085731600245)

» Selengkapnya...

5th Sastra Reboan Mempersembahkan "Bingkisan Kehidupan"



5 th Sastra Reboan mempersembahkan "Bingkisan Kehidupan" pada acara yang rutin diadakan di Bulungan. Berikut acara yang akan tampil, Sob.

Musikalisasi Puisi
  • Komoenitas Lesehan Keboedajaan dari Ciputat
  • Dedi Setiadi
  • Azas Zenith dari Bandung
Bincang Buku
  • Kumcer WeniSuryandari "Kabin Peteh" yang akan dibahas oleh Dedy Tri Riyadi dan buku puisi Setiyo Bardono "Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta" pembahas Khudori Husnan akan dimuderatori oleh Zabidi Zay Lawalangit
Pembacaan Puisi
  • Vita Balqis
  • Syahar Banu
  • Stevanus Kusteja
  • Jodhi, dll.
Waktu dan Tempat
  • Rabu 24 April 2013 pukul 19.30 WIB di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan - Blok M

» Selengkapnya...

KOPI Sastra Menerbitkan "Majalah Online KOPI Sastra Edisi 6"

Dalam beberapa kurun waktu ke belakang KOPI Sastra (Komplotan Penulis Imajinasi Sastra) sudah menciptakan inovasi-inovasi dalam bidang sastra, khususnya dunia tulis-menulis. Salah satu inovasi terhangat ialah dengan menciptakan buletin bulanan yang diterbitkan secara online dan dapat diunduh gratis. Buletin yang dinamakan "Majalah Online KOPI Sastra" sudah memiliki enam edisi. Edisi keenam baru saja diterbitkan. Untuk para sahabat yang ingin memiliki edisi terbaru (Majalah Online KOPI Sastra Edisi 6) bisa langsung menngunduhnya pada link download di bawah ini.


Khusus bagi para Sahabat Pena yang belum memiliki "Majalah Online KOPI" Sastra edisi-edisi sebelumnya tidak perlu khawatir, kamu bisa mengunduhnya pada link di bawah ini.


Bagi para Sahabat Pena yang ingin mengetahui informasi-informasi teraktual dan ingin bergabung dengan KOPI Sastra, silakah bergabung dengan KOPI Sastra. Klik saja link di bawah ini.



Salam.

» Selengkapnya...

"Majalah Online KOPI Sastra" : Majalah Sastra Elektronik Gratis

Sahabat Pena, "Majalah Online KOPI Sastra Edisi 6" akan segera diterbitkan. Namun, bagi para Sahabat yang belum memiliki edisi-edisi sebelumnya, segera dapatkan. Majalah elektronik ini bisa didapatkan secara gratis hanya dengan cara mengunduh (download). Nah, buat para Sahabat Pena yang belum memiliki edisi-edisi sebelumnya dan ingin memilikinya saya sediakan link untuk mengunduhnya. Silakan klik link-link di bawah ini.




Majalah Online KOPI Sastra Edisi 1

Majalah Online KOPI Sastra Edisi 2

Majalah Online KOPI Sastra Edisi 3

Majalah Online KOPI Sastra Edisi 4

Majalah Online KOPI Sastra Edisi 5

» Selengkapnya...

Sastra : Ditinjau dari Manfaat yang Sederhana


Apakah nyemplung dalam kobangan sastra yang kemudian meminum air dan melumuri tubuh dengan lumpurnya itu ada batasnya?...
Melihat berbagai perkembangan yang terjadi dalam ranah sastra beserta konflik-konfliknya, sangat jelas bahwa bidang sastra ialah sebuah ruang meditasi yang terus meluas dan diminati banyak individu. Saat memperhatikan segelintir anak remaja SMP, SMA, dan Mahasiswa yang tertarik dengan dunia sastra, mungkin terpikir akan ada cetakan-cetakan baru atau regenerasi. Namun, setiap tingkat pemahaman yang dimiliki berbeda pada setiap individunya. Tidak sedikit seseorang yang memiliki potensi besar dan sesibilitas tinggi terhadap sastra, memilih bidang lain karena pola pikir yang ada dalam dirinya. Sebaliknya, seseorang yang memiliki sedikit potensi dan kepekaan standar bahkan cenderung lamban, sangat tertarik dengan sastra.
Tidak bisa dipungkiri, awal mula seseorang tertarik dengan sastra, sebenarnya ia sendiri tidak mengerti, bahwa, sesungguhnya ia telah mencelupkan kakinya pada kobangan sastra (terutama pada tingkatan SD dan SMP). Mereka belum mencapai temuan-temuan, bahwa, betapa menawan sekaligus peliknya dunia sastra. Menawan karena dengan sastra kita sadar akan esensi kehidupan, baik dari segi pribadi apalagi jika dikaji lebih mendalam dan universal. Pelik jika melihat kemudian menkaji konflik, fenomena, dan argumen-argumen yang terjadi hingga sastra terus berkembang seiring polemik-polemiknya. Dengan dan tanpa kita sadari ternyata, hal tersebutlah yang membentuk pola pikir menjadi lebih alamiah, sensitif,  dan kritis.

» Selengkapnya...

"Hello Effect" - Awal dari Kecurangan dan Kebodohan

Saya masih ingat tentang beberapa materi semasa kuliah lalu, terutama tentang Evaluasi Pembelajaran. Semasa saya kuliah saya memang tidak terlalu menyukai mata kuliah tersebut, tetapi saya adalah mahasiswa yang beruntung kala itu. Kenapa demikian? Saya termasuk mahasiswa yang biasa-biasa saja, bahkan sering tidak masuk kuliah terutama pada mata kuliah tersebut. Namun, hasil akhir yang saya dapatkan dari mata kuliah itu tidak buruk dibandingkan dengan teman-teman saya. Beberapa teman sekelas saya terutama laki-laki mendapatkan nilai di bawah saya satu tingkat bahkan ada yang dua tingkat lebih rendah dari saya, tidak perlu saya sebutkan nilainya. Perhitungannya begini, apabila saya mendapat A berarti mereka mendapat B atau C, jika saya mendapat B mereka mendapat C atau D.
Pembelajaran tersebut ialah bagaimana cara atau langkah-langkah untuk mengakumulasikan nilai akhir siswa dan mengevaluasi hasil belajar dari proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang dilaksanakan oleh guru. Alasan saya tidak terlalu menyukai kuliah tersebut karena di dalamnya banyak rumus-rumus yang mesti dipelajari meskipun masih rumus sederhana dibanding ilmu statistika. Akan tetapi, ada satu hal yang sangat berkesan dan juga paling saya ingat hingga kini, yaitu, tentang Hello Effect. Apa itu Hello Effect?....

» Selengkapnya...

KOTA MASA DEPAN - Cerpen Helmy Fahruroji tentang Bogor


KOTA MASA DEPAN

Cerpen karya Helmy Fahruroji tentang tempat tinggalnya, Bogor. Cerpen ini pernah dimuat pada buku "Jurnal Sastra Ruang Melati"


"Assalamualaikum, apa kabar saudaraku sekalian......."

Lantunan lagu itu terus berdering pada sebuah telepon genggam. Beberapa kali nada dering itu berputar-putar, rupanya orang yang menghubungi sangat berharap panggilan itu segera terhubung dengan sang pemilik hand phone itu. Tetapi apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang menghubunginya sebab terbatas dengan jarak. Tidak lama berselang suara dering hand phone itu pun berhenti, mungkin seseorang yang menghubungi hand phone itu sudah jengkel dan bosan bahkan habis kesabarannya. Kini suara dering pendek yang berbunyi dari hand phone itu.
Sementara itu, aku baru saja keluar dari kamar mandi sebab waktu sudah hampir siang, aku harus segera berangkat ke sekolah untuk mengajar. Hari ini begitu sejuk terasa udara menjelang siang, hanya saja terik matahari sudah mulai mengeluarkan amarahnya dan siap untuk menyengat siapa saja yang berada di bawahnya. Tanpa basa-basi aku mencari seragam kerjaku. Semua sudah beres sekarang, ah.... hampir saja hand phone tertinggal. Aku mulai melihat apakah ada pesan hari ini untuk kubaca. Aku terkejut sejenak, ketika melihat sudah ada tiga belas panggilan tak terjawab dan tiga pesan masuk.

» Selengkapnya...

SEGERA TERBIT: TIGA BANGKU, ANTOLOGI PUISI TIGA PENYAIR WANITA INDONESIA



Antologi Puisi Diah Hadaning, Yvonne De Fretes dan Iriani R. Tandy.
Featuring puisi Toeti Herati Noerhadi
Kata Pengantar: Eka Budianta
Cetakan Pertama: Desember 2012
ISBN: 978-602-8966-42-9
Tebal: 112 hal

Puisi ditulis dan dibaca untuk membebaskan hati dan pikiran manusia.  Banyak yang memperlakukan puisi sebagai alat komunikasi. Ada juga yang melihat puisi sebagai media ekspresi jiwa melalui tulisan, kata-kata.  Tetapi ada juga yang menulis dan membaca puisi sebagai terapi kejiwaan. Misalnya untuk menyembuhkan luka batin, menghapus dahaga, mengobati sakit hati akibat putus cinta, dan seterusnya.
Buku ini disusun oleh tiga perempuan yang telah berpengalaman menulis dan membaca banyak puisi.  Diah Hadaning, yang lahir di Jepara sebelum Republik Indonesia merdeka, bahkan telah memproduksi banyak buku puisi.  Ia juga membacakan karya-karyanya di dalam banyak pertemuan.  Yvonne de Fretes juga penyair yang produktif. Dia menggunakan puisi sebagai alat dokumentasi dan sarana berbagi pengalaman. Yvonne lebih terlatih memilih kenangan apa yang harus dicatatnya.  Ia juga menggunakan referensi yang diharapkan sudah dipahami oleh banyak pembaca.  Membaca sajak-sajak Yvonne, membuat kita diingatkan bahwa kita sebenarnya kaya, dan berdaya.  Iriani R. Tandy mempunyai peluang yang sangat besar untuk menunjukkan kekayaan budaya dan latar-belakang alam Sumatera, yang telah membesarkannya.
Tiga perempuan yang menyajikan karya-karyanya dalam buku ini, sesungguhnya berpacu dalam meramu, mengolah dan menyajikan kebajikan dan kebajikan personal mereka dalam kaitan dengan bahasa Indonesia.
Kita gembira menyambut tiga perempuan dengan medan pergulatan yang berbeda-beda ini.
Seandainya mereka disatukan di sebuah meja, sebenarnya tetap menjadi perempuan dari tiga bangku.  Suara-suara mereka sangat berbeda, saling mengisi dan saling memperkaya.  Selamat berkarya.  Terimalah penghargaan dan rasa terima kasih tak terhingga, untuk terbitnya buku ini; dan untuk disebarkannya pengalaman serta aspirasi hidup yang berharga. Kutipan dari kata pengantar Eka Budianta, penyair, dan sastrawan

» Selengkapnya...

PUISI SEBAGAI SULUK ATAU JALAN KERUHANIAN

PUISI SEBAGAI SULUK DALAM SASTRA MELAYU

Abdul Hadi W. M.


Salah satu fungsi puisi dalam estetika Melayu ialah sebagai suluk, yaitu jalan keruhanian. Ini tampak dalam syair-syair makrifat dan tauhid, atau syair-syair tasawuf seperti yang dikarang oleh Hamzah Fansuri dan para pengikutnya di Sumatra pada abad ke-16 dan 17 M. Dalam kesusastraan Jawa secara eksplisit karangan yang memaparkan ajaran dan pengalaman ahli tasawuf dalam menempuh jalan keruhanian disebut suluk.  Seperti tujuan tasawuf, tujuan sastra suluk ialah memaparkan jalan keruhanian para sufi untuk mencapai ”kesaksian bahwa tiada hakikat yang lebih tinggi selain Yang Satu, Allah subhana wa ta`ala”. Dalam perjalanan itu seorang ahli suluk mengalami keadaan-keadaan ruhani (hal) dan sampai pada tahapan ruhani (maqam) tertentu. Dalam Mantiq al-Tayr Fariduddin `Attar melukiskan tujuh maqam atau tahapan keruhanian itu sebagai  berikut : talab (pencarian), `isyq (cinta), ma`rifa (makrifat), istighna (kedamaian),  hayrat (ketakjuban), tauhid, dan terakhir – fana’, baqa dan faqir. 
Untaian bait dalam Syair Perahu adalah contoh bagaimana puisi berperan sebagai jalan keruhanian dan kendaraan menuju tauhid.

» Selengkapnya...

Sayembara Menulis Novel dari Masa ke Masa


Sayembara Mengarang Roman DKJ 1974
 Diumumkan sejak 1 Januari 1974.

Syarat-syarat:
berlaku untuk setiap pengarang di seluruh Indonesia,   tema bebas, ditulis dalam bahasa Indonesia, diketik 2 spasi setebal 100 halaman, belum pernah diumumkan dalam majalah atau surat kabar, dibuat rangkap tiga. Batas akhir pengiriman naskah: 31 Agustus 1974.
Ada 64 naskah yang masuk tetapi hanya 59 yang memenuhi syarat administrasi.

Dewan Juri:
Umar Kayam, Boen S. Oemarjati, Sapardi Djoko Damono, S. Effendi,
dan Mh. Rustandi Kartakusuma.

 Pemenang:
Juara I tidak ada
Juara II tidak ada
Juara III tidak ada
Tapi Dewan Juri memilih lima pemenang dengan hadiah penghargaan
masing-masing R  p 75.000. Mereka adalah: Astiti Rahayu karya Iskasiah Sumarto (Yogyakarta) , Dari Hari Ke Hari karya Mahbub Djunaidi (Jakarta),  Arus karya Aspar Paturusi (Ujung Pandang), Sisa-sisa Hari Kemarin karya Suparto Brata (Surabaya),
Qisas karya C.M. Nas (Jakarta).


Sayembara Mengarang Roman DKJ 1975

Syarat-syarat sayembara masih sama dengan tahun sebelumnya.  Juga deadline penyerahan naskah. Hingga batas akhir penerimaan naskah 31 Agustus 1875 panitia menerima 46 naskah.

Dewan Juri:
Mh. Rustandi Kartakusuma, Jakob Sumardjo, Lukman Ali, Boen S. Oemarjati,
dan Sapardi Djoko Damono (Ketua).

Pemenang:
Keputusan Dewan Juri diumumkan 29 November 1975 dan ditandatangani Ketua Dewan Pekerja Harian DKJ Ajip Rosidi memutuskan:
Juara I tidak ada
Juara II Stasiun karya Putu Wijaya
Juara III Tawakal karya Ramadhan KH
Juara Harapan Perjalanan karya Silia Saraswati (Ujung Pandang), Raumanen karya Mariane Kattopo (Jakarta) dan Arlinah karya Suwarsih Djojopuspito


» Selengkapnya...

(Penyair Sulis dan Tuhan) Imajinasi Murni dan Metapora Murni

Imajinasi adalah pengadaan, atau pendatangan - ia mengadakan, atau mendatangkan, yang tiada, menjadi ada. tapi, siapakah ia di sana? di dalam permainan imajinasi dan metapora, yang kita baca jauh mengatasi aristoteles dan penafsir-penafsirnya kemudian. Demikian juga dengan metapora: saat pengadakan itu terjadi, saat itu pula metapora dimulai dalam gerak imajinasi. dan bukan hanya metapora yang bisa kita sematkan sebagai gerakan, bergeraknya suatu kata ke kata lain untuk maksud lain, tapi juga adalah imajinasi, yang bergerak mengadakan yang tiada menjadi ada. Dalam hubungan dengan semua itu, maka sebenarnya kita tidak memiliki imajinasi dan kegiatan kita pun, bukanlah metapora. Sebab kita tak kuasa mengadakan, dan kita tak kuasa memberi nama dari apa yang tiada, tapi kini telah diadakan itu. Maka, kalau kini kita berbicara tentang imajinasi dan metapora, sebetulnya kita sedang berbicara tentang proses mengkomposisi, membentukkan dia yang telah ada, ke dalam bayangan pikiran kita sendiri yang, adalah hasil dari kerja imajinasi murni dan metapora murni itu. Kita tak kuasa mengadakan, kecuali membentukkan dari yang sudah ada; kita juga tak kuasa memberi nama yang tadinya tiada. ringkasnya, kita adalah pemakai yang sudah ada, meletakkannya sesuai panggilan genetik tubuh dan jiwa kita sendiri. kalau demikian apakah imajinasi dan apakah metapora? imajinasi dan metapora, itu ada hubungan langsung dengan kerja sang maha tiada yakni tuhan itu sendiri.

» Selengkapnya...

Mengatasi Miskin Ide dalam Menulis #2

Memulai Tulisan (Membiasakan Menulis)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apa kabar wahai kawan-kawan pembaca? Senang sekali kita bisa bersapa meski hanya melalui tulisan. Agak lama memang terbitnya rentang tulisan pertama dan ke-dua menganai edisi ‘BELAJAR’ ini. Karena itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan ini. Bagi penunggu serial 'Receh' pun penulis mohon maaf karena kelanjutan cerita tersebut masih dalam tahap editing dan harus diselang dengan tulisan lain. Selain karena permintaan pembaca akan kelanjutan edisi 'Belajar#' ini, kemampuan penulis yang terbatas pun menjadi kendala dalam prodiktifitas dua edisi tulisan berkala ini. Jadi, dari pada memaksakan yang belum layak lebih baik tampilkan saja yang telah rampung, toh dua tulisan itu sama-sama bermanfaat (insyaallah, amin).

Sebelum beranjak pada masalah, terlebih dulu diberitahukan bahwa edisi ‘BELAJAR’ ini adalah realsasi ide-ide penulis dalam segala hal yang berkaitan mengenai dunia tulis-menulis, khususnya dalam karya sastra (baik prosa maupun puisi). Segala hal yang berhubungan dengan karya tulis sastra baik sistematika penulisan, masalah, serta faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang dalam menulis dituangkan di sini.

Memang sempat terpikir untuk tidak hanya mengangkat topik menulis saja, tapi juga membaca, menyimak dan berbicara. Hanya saja, untuk sementara ini menulis adalah hal yang paling memungkinkan untuk penulis angkat ke hadapan kawan sekalian. Namun, tidak menutup kemungkinan di kemudian hari disuguhkan pula seputar membaca, menyimak, berbicara, atau mungkin juga hal-hal di luar keterampilan berbahasa. Ini ditandai dengan hanya dicantumkan judul ‘BELAJAR’ tanpa diikuti kata yang lain.

» Selengkapnya...

Kampanye Sastra oleh Komunitas Pintu

Komunitas Pintu yang bertempat di Jl. Rd. Bujang RT.03/01 Purwodadi, Kel. Tebing Tinggi, Kec. Tebo Tengah, akan menggagas workshop tentang menulis kreatif puisi. Acara ini akan diselenggarakan pada tanggal 1 Mei 2011 jam 12.30 s.d. 17.00 WIB di sekretariat Komunitas Pintu. Pengisi materi atau pemateri pada workshop tersebut oleh Dr. Sudaryono, M.Pd yang merupakan dosen UNJA dan seorang sastrawan.

» Selengkapnya...

Belajar Lebih Peduli Bersama Komunitas “KOPI Sastra”

Komplotan Penulis Imajinasi Sastra atau yang lebih dikenal dengan sebutan KOPI Sastra, kini mulai bergerak secara perlahan namun pasti dalam mewadahi para penikmat dan pegiat sastra. KOPI Sastra berdiri pada tanggal 17 Oktober 2008 di Bogor. Pendirian KOPI Sastra memang bermula seperti angin yang melintasi pikir Wahyudi dan Helmy Fahruroji dan kemudian berdomisili dalam kepala mereka. Hingga beberapa bulan kemudian pikiran tersebut menjadi sebuah gagasan untuk melahirkan sebuah komunitas sastra di Bogor.
Pemikiran tersebut muncul ketika mereka menyukai ruang lingkup sastra, terutama dalam menulis. Kendala yang mereka hadapi ialah bagaimana cara mencari wadah untuk menyalurkan tulisan-tulisan mereka. Dengan memberanikan diri, mereka mengadakan diskusi dengan beberapa teman kuliah di Universitas Pakuan Bogor. Pertemuan pertama sederhana, hanya sekedar mencari dukungan untuk menciptakan wadah bagi warga Bogor yang memiliki hobi menulis tentang nilai-nilai sastra.
Garapan utama pada waktu itu ialah para mahasiswa dan mahasiwi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pakuan Bogor. Hal tersebut dikarenakan mereka memang para mahasiswa yang mengambil jurusan tersebut. Kemudian muncul pemikiran-pemikiran untuk menumbuhkembangkan komunitas KOPI Sastra yang mereka lahirkan dengan menggarap para pelajar se-Kota Bogor.
Hingga tahun 2010, KOPI Sastra sudah membuktikan produktifitasnya dengan menerbitkan dua buku dan satu buah compact disk (CD) secara self publishing yang merupakan antologi karya-karya para pengikutnya yang aktif. Antologi-antologi tersebut dibuat sederhana karena anggaran yang digunakan diambil dari kocek para pengurusnya.
Perjalanan sebuah komunitas jelas tidak selalu mulus, begitu juga dengan KOPI Sastra. Ditengah-tengah perjalanan mengalami berbagai hambatan, kebanyakan para pengikutnya menghilang begitu saja. Padahal di komuitas KOPI Sastra tiap anggota sama sekali tidak dikenakan anggaran wajib. Bahkan, ketika para anggota yang berdomisili di luar kota Bogor apalagi luar provinsi atau pulau, cukup dengan mengirimkan karyanya via e-mail ketika ingin karyanya diterbitkan. Mungkin itulah salah satu sifat manusia, ingin semua serba instan, seperti halnya seseorang yang ingin buang air besar atau bermain sulap;  bimsalabim, jadi! 
Namun hingga 2011 ini, mereka tidak mau menyerah ditengah perjalanan. Tubuh mereka sudah terendam sebagian dalam kobangan sastra. Mereka amat-sangat cinta dengan KOPI Sastra. Mereka masih bisa melaluinya dengan senyum dengan lesung pipi yang merah merona. Hal tersebut dibuktikan dengan merilis web mereka, www.kopisastra.org untuk menaungi para penikmat dan pegiat sastra mengekspresikan karyanya. Web tersebut diciptakan oleh Menkominfo KOPI Sastra, Pry. Pembuatan situs tersebut juga merupakan sebagai penyambutan HUT Sastra Internet pada tahun ini. Peresmian web www.kopisastra.org direncanakan pada tahun ini, bertempat di dua kota, Bogor dan Bandung. Selain itu, KOPI Sastra juga akan siap menerbitkan antologi keempatnya pada tahun ini. Antologi yang biasa disebut APK (Antologo Pohon Kopi) itu juga direncanakan akan launching secara bersamaan dengan web www.kopisastra.org di dua kota tersebut.
Semoga komunitas KOPI Sastra menjadi salah satu medan sastra yang dapat menciptakan para sastrawan baru dengan kompetensi, intelegensi, dan kepedulian terhadap esensi-esensi seni-budaya yang tinggi.

» Selengkapnya...

Sastra dalam Pengembangan

Apakah nyemplung dalam kobangan sastra yang kemudian meminum air dan melumuri tubuh dengan lumpurnya itu ada batasnya?...

Melihat berbagai perkembangan yang terjadi dalam ranah sastra beserta konflik-konfliknya, sangat jelas bahwa bidang sastra ialah sebuah ruang meditasi yang terus meluas dan diminati banyak individu. Saat memperhatikan segelintir anak remaja SMP, SMA, dan Mahasiswa yang tertarik dengan dunia sastra, mungkin terpikir akan ada cetakan-cetakan baru atau regenerasi. Namun, setiap tingkat pemahaman yang dimiliki berbeda pada setiap individunya. Tidak sedikit seseorang yang memiliki potensi besar dan sesibilitas tinggi terhadap sastra, memilih bidang lain karena pola pikir yang ada dalam dirinya. Sebaliknya, seseorang yang memiliki sedikit potensi dan kepekaan standar bahkan cenderung lamban, sangat tertarik dengan sastra.

Tidak bisa dipungkiri, awal mula seseorang tertarik dengan sastra, sebenarnya ia sendiri tidak mengerti, bahwa, sesungguhnya ia telah mencelupkan kakinya pada kobangan sastra (terutama pada tingkatan SD dan SMP). Mereka belum mencapai temuan-temuan, bahwa, betapa menawan sekaligus peliknya dunia sastra. Menawan karena dengan sastra kita sadar akan esensi kehidupan, baik dari segi pribadi apalagi jika dikaji lebih mendalam dan universal. Pelik jika melihat kemudian menkaji konflik, fenomena, dan argumen-argumen yang terjadi hingga sastra terus berkembang seiring polemik-polemiknya. Dengan dan tanpa kita sadari ternyata, hal tersebutlah yang membentuk pola pikir menjadi lebih alamiah, sensitif,  dan kritis.

Jadi, apakah perlu kita membahas tentang polemik-polemik yang terjadi dalam perkembangan sastra yang pelik kepada anak yang sedang asik melukiskan kehidupannnya secara sederhana ke dalam sebuah karya?. Hal ini jelas bergantung kepada siapa pertanyaan tersebut ditanyakan. Menurut saya sendiri, hal ini tidak perlu dijelaskan secara gambalang terlebih dahulu. Biarkan mereka asyik bermain dengan tema dalam kehidupannya, melewati plot-plot dengan berbagai setting hingga menghadapi konflik dan mencapai klimaks. Ketika pola pikirnya mulai berkembang dan sensitif, ia akan menemukan amanat-amanat dari setiap hal yang dialaminya. Maka, munculah gagasan-gagasan baru yang bisa ia kembangkan.

Belajar sastra ialah belajar menelaah, menciptakan sensibilatas tinggi, mengembangkan pola pikir kritis yang sistematis, dan mencari kebenaran yang tersembunyi untuk dihayati sehingga mendapatkan solusi. Hal tersebut akan mewujudkan manusia menjadi manusia yang memiliki hati dan nurani dan berani. Seperti halnya konteks sastra yang pernah saya dengar dalam kuliah, bahwa, sastra itu dapat memanusiakan manusia.

» Selengkapnya...

Mengatasi Miskin Ide dalam Menulis #1

Sahabat, ini sebuah catatan teman tentang menulis, terutama menciptakan sebuah ide dengan belajar secara sederhana. Catatan yang di tulis oleh Abdee Nugraha ini semoga membantu untuk kita. Terutama untuk memulai belajar dan menumbuhkan minat terhadap menulis. Baik, kita simak pembelajaran di bawah ini:

‘Menulis tidaklah gampang’, itulah inti dari setiap ungkapan orang-orang yang mengalami kesulitan dalam menulis. Sulit mendapatkan ide adalah faktor utama dan faktor awal yang biasanya dialami. Inilah masalah yang paling sering muncul pada setiap penulis. Mereka mengistilahkan dengan miskin ide.

Istilah miskin ide sebenarnya kurang tepat disematkan pada manusia waras. Ide sebenarnya selalu ada, hanya saja nampak begitu kabur dan ketika nampak jelas rasanya sulit sekali diungkapkan apalagi dituliskan.

Ide adalah hal-hal yang terlintas di kepala seseorang sebagai pengembangan kerja panca indra. Ketika membayangkan bakso yang begitu pedas dimakan tengah hari bersama kawan-kawan sambil diselingi canda antarsesama saat makan, maka ide itu bermula dari makan bakso. Ketika mendengar lagu ‘Tikus-tikus Kantor’ karya Iwan Fals, terbesit dalam pikiran bagaimana wujud tikus dan kebiasaan tikus kantor, tikus berdasi, dan lain-lain. Maka, sebenarnya ide kita dimulai dari tikus tersebut. Atau ketika tidak memikirkan apa-apa, nampak di depan mata sebuah gorden digoyangkan angin, maka ide berawal dari gorden dan angin.

Setelah mendapatkan sesuatu dari panca indera, haruslah berpikir untuk akhirnya dapat muncul sebuah ide. Pengembangan itu bebas, tak ada aturan dalam mengembangkan ide. Bisa saja kejadian gorden angin mengakibatkan kita terpikirkan angin puting beliung yang menghabiskan rumah di tiga dusun. Semua warga mati kecuali Aisyah, remaja empat belas tahun yang masih perawan.  Aisyah terpaksa melupakan nafsu birahi yang sejak beberapa malam menghantuinya. Inilah contoh pengembangan paragraf hingga akhirnya tercipta sebuah ide.

Sebelum dikembangkan ide ini dalam bentuk tulisan, kita tentu harus begitu peka terhadap apa yang ada di sekitar kita. Haruslah dulu terbiasa menuliskan apapun yang dihasilkan panca indera. Dalam hal ini, membiasakan menuliskan setiap kata atau nama benda adalah syarat utama. Misal, karpet, kertas sapu, sofa, meja kaca, gelas, layar komputer, dan lain-lain.  Mulailah dari kata-kata.

Untuk mengembangkan penghasilan indera menjadi ide yang terkesan kreatif dan imajinatif memang dibutuhkan berpikir yang luas. Tapi, perlu diketahui bahwa berpikir luas pun bisa dilatih. Bila tadi membiasakan dengan menuliskan kata atau nama benda, kali ini tingkatannya lebih tinggi, yaitu klausa dan kalimat. Biasakan menuliskan apapun yang ada di sekitar atau apapun yang dihasilkan panca indera ke dalam bentuk kalimat. Contoh berdasarkan kata-kata di atas misalkan, ‘Karpet hijau yang sudah dua bulan belum dicuci masih terlihat mantap tegar di kamarku’, atau ‘Gelas yang kupakai minum semalam tiba-tiba raib dari atas meja. Padahal aku yakin sekali menyimpan gelas itu di meja, semalam. Setahuku belum ada satu orang pun yang masuk ke kamar ini, wong aku pun belum keluar!’.

Dengan melatih membiasakan menulis kata, nama benda, kemudian klausa dan kalimat, hingga paragraf, maka menulis sebenarnya tidaklah begitu sulit. Tinggal kita perhatikan hal-hal lain di luar ide.

» Selengkapnya...

BEDAH BUKU: PAJANG Pergolakan Spiritual, Politik, dan Budaya karya Martin Moentadhim S.M.

BEDAH BUKU:
PAJANG Pergolakan Spiritual, Politik, dan Budaya
(RUMAH BUDAYA BETHARI SRI)
Sabtu, 29 Januari 2011



PAJANG MERUPAKAN sejarah yang memiliki peran penting dalam perkembangan sejarah Jawa. Namun, hingga kini, Kerajaan Pajang seperti tertutup sesuatu yang sangat luar biasa. Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang “gelap’. Tengok saja bagaimana kisah ini seharusnya:

”Ki Ageng Pengging punya dua putra: Ki Kebo Kenanga dan Ki Kebo Kanigara. Ki Kebo Kenanga—sebagai penerus ayahnya menjadi adipati di Pengging—telah memeluk agama Islam ajaran Syekh Siti Jenar (Syekh Lemah Abang). Ajaran Islam ini tidak disukai oleh kelompok Wali Sanga yang mendukung kepemimpinan Demak. Aliran itu dianggap sebagai aliran sesat, yang dikenal dengan aliran jumbuhing kawula gusti.”

”Dalam ajaran mistik Jawa, kata-kata jumbuhing kawula gusti (menyatunya hamba dan tuan) melukiskan tujuan tertinggi dalam hidup manusia, yaitu tercapainya kesatuan yang sesungguhnya (manunggal) dengan Tuhan. Uraian yang lebih rumit lagi karena kata kawula dan gusti menunjukkan status manusia yang paling rendah dan paling tinggi di dalam masyarakat.”

”Dalam pemikiran orang Jawa, kesatuan kawula-gusti dilambangkan sebagai keris. Kedua bagian keris: sarungnya (warangka) dan matanya (curiga) diberi penafsiran yang sangat bersifat mistik. Sarung disamakan dengan manusia dan matanya disamakan dengan Tuhan. Jadi melukiskan hubungan yang mutlak ada, yang satu tidak sempurna tanpa kehadiran yang lain.”

”Penyerangan dari Demak di daerah pesisir ke Pengging di daerah pedalaman ini merupakan kelanjutan proses pergerakan islamisasi dari para wali di daerah pesisir utara Jawa. Perlu dipahami bahwa masyarakat pedalaman pada saat itu masih kental dengan kepercayaan agama Hindunya atau masih ’kafir’.”

Bagaimana anda menyikapi salah satu ulasan ini? Benarkah seperti itu?

Kami, YAYASAN KERTAGAMA Mengundan Bapak/Ibu/Saudra/Saudari untuk hadir dalam acara Bedah Buku: PAJANG Pergolakan Spiritual, Politik, dan Budaya karya Martin Moentadhim S.M.

Dengan menghadirkan:

PENULIS/NARASUMBER:
Martin Muntadhim S.M

PEMBICARA:
Prapto Yuwono
Pembicara: Pengamat Sejarah Pajang—Sastra Jawa UI)

Harto Yuwono
Pengamat Sejarah Pajang—Sejarah UI)

MODERATOR
Handoko F Zainsam

Pada

Hari/Tanggal:
Sabtu, 29 Januari 29 Januari 2011

Waktu:
10.00 – 13.00

Tempat :
Rumah Budaya Bethari Sri
Jln. Ampera Raya No.11
Jakarta Selatan (Depan MEDCO)

Atas kehadirannya, Kami mengucapkan Terimakasih. Semoga sumbangsih pemikiran kita semua, mampu memberikan masukan sejarah dan pemikiran masa lalu untuk menyongsong masa sepan Indonesia.


Sumber: (Catatan Handoko F Zainsam)  
              (http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150142412845465)

» Selengkapnya...

KEDAI BUKU ERA FACEBOOK

www.visikata.com

Oleh: Damhuri Muhammad 

(versi panjang dari esai yang tersiar di majalah DEWI edisi  Desember 2010, dengan tajuk "fiksi era maya")


Di penghujung September 2010, komunitas sastra “Lerengmedini” menggelar bedah buku kumpulan cerpen Tangan Untuk Utik (2009), karya Bamby Cahyadi. Tidak seperti diskusi buku pada lazimnya, komunitas yang bermarkas di Boja, Kendal (Jateng) itu menyelenggarakannya secara teleconference-webcam dengan fasilitas yahoo messenger (YM) dan box chat  facebook, yang dilayar-lebarkan. Para penyuka sastra di Boja leluasa bertanya-jawab dengan Bamby Cahyadi yang berada di Jakarta. Begitu juga dengan para penanggap yang berdomisili di Swiss, Jerman, dan Hongkong. Modus baru apresiasi sastra di jaman internet, yang tak terbayangkan sebelumnya.

Bedah buku ala komunitas “Lerengmedini”  terbilang unik, hingga buku TUU itu beroleh perhatian, setidaknya dari sisi kerja pengarangnya mengembangkan jaringan ke kantong-kantong pembaca sastra di daerah. Usia kepengarangan Bamby terbilang muda di ranah cerpen Indonesia, tapi ketelatenan self-marketing-nya membuat ia cepat melesat, hingga karya-karyanya berhamburan di sejumlah media nasional. Cerpenis yang berprofesi sebagai store manager restoran fastfood itu serius memperjuangkan karyanya. Sejak TUU terbit, sudah belasan kali ia menggelar diskusi, tak hanya di komunitas-komunitas sastra ibukota, tapi juga di Malang, Yogyakarta, dan Tasikmalaya. Semuanya ia upayakan sendiri, tanpa dukungan penerbit. Hasilnya menggembirakan. Bukan saja dari segi pencitraannya sebagai cerpenis, tapi juga dari sisi penjualan yang di atas rata-rata. Bamby tak segan menawarkan bukunya sendiri, dengan iming-iming tanda-tangan pengarang, tentunya. Setiap hari ia menyiarkan informasi seputar TUU di dinding facebook-nya. Saking dekatnya ia dengan pembaca, fans Bamby tak keberatan mengganti foto profil mereka dengan sampul TUU.

Mengamati trend ini, penerbit-penerbit yang concern di buku-buku sastra akan berpikir dua kali untuk meloloskan naskah dari pengarang yang sudah punya nama. Mengingat prospek penjualan buku cerpen terbilang payah, nama besar bisa saja diabaikan. Sebab, pasca-turun cetak, mereka hanya duduk-diam, menunggu kiriman royalti. Paling banter mereka hanya muncul saat launching, itupun kalau ada. Selepas itu, promosi bulat-bulat diserahkan kepada penerbit. Maka, memilih naskah karya cerpenis muda seperti Bamby akan lebih menjanjikan.

Di sepanjang tahun 2010, ada sejumlah buku sastra jenis prosa yang terpajang di rak-rak toko buku, dengan tema dan gagasan yang beragam, meski apresiasi dari pembaca belum bisa dikatakan memadai. Sebutlah misalnya,  Klop (kumcer), karya Putu Wijaya, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (kumcer) karya Agus Noor, Rahasia Selma (kumcer) karya Linda Christanty, Balada Ching-Ching (kumcer) karya Maggie Tiojakiu, Mantra Maira,  (kumcer), karya Sofie Dewayani, Ciuman di Bawah Hujan (novel) karya Lan Fang, Arumdalu (novel) karya Junaedi Setiyono, Manjali dan Cakrabirawa (novel karya) Ayu Utami, dan  Dwilogi Padang Bulan (novel) karya Andrea Hirata.

Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia termasuk buku yang banyak dibincang media dan forum-forum diskusi. Selain cerpenis prolifik, seniman multi-talenta ini juga rajin melakukan self-marketing seperti Bamby. Ia punya weblog yang selalu menginformasikan kabar terkini perihal karya-karyanya. Belakangan, Agus Noor juga menggagas genre fiksi-mini di twitter, dan beroleh sambutan hangat. Selain cerpen, ia menulis skenario program TV, naskah teater, dan kerap menyutradarai performing art. Daya tarik SBPID terasa pada eksperimentasi berkisah yang seolah tiada habis-habis, dan mungkin tidak ditemukan pada buku cerpen lain. SBPID masuk dalam daftar 5 Besar Khatulistiwa Literary Award 2010, penghargaan sastra yang disebut-sebut paling gemuk hadiahnya (100 juta). Buku itu bersaing dengan Rahasia Selma (2010), karya Linda Christanty, Kekasih Marionette (2009) karya Dewi Ria Utari, 9 dari Nadira (2009) karya Leila. S Chudori, dan  Klop (2010) karya Putu Wijaya. Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini nominee kategori prosa didominasi kumpulan cerpen. Data hasil penjurian yang dilakukan oleh orang-orang yang expert di bidang sastra itu, setidaknya dapat memperkuat posisi tawar buku kumpulan cerpen yang kerap dipandang sebelah mata, lantaran susah dijual.
                        
Mantra Maira (Sofie Dewayani) dapat dikatakan sebagai buku sastra yang menawarkan warna baru. Mantra Maira terbuhul dengan tema masyarakat urban (asal Indonesia) di AS. Sofie Dewayani yang saat ini tinggal di Urbana, AS, membincang problem identitas keindonesiaan dari perspektif perantau Indonesia di negeri Paman Sam. Tokoh-tokoh rekaannya sedemikian rapuh, goyah, dan tak sanggup bertahan sebagai orang Indonesia di Amerika, lalu bermunculan sejumlah siasat untuk menyembunyikan identitas tanah asal. Garapan semacam ini mengingatkan kita pada karya-karya Hanif Khureisi─novelis Inggris asal Pakistan─seperti  Buddha of  Suburbia maupun Midnight All Day. Namun, Mantra Maira dingin-dingin saja, entah karena temanya terlalu berat, penulisnya sibuk menyelesaikan disertasi doktornya, atau penerbitnya yang setengah hati merancang strategi promosi. 

Selain itu muncul pula corak lain dari cerpenis muda Benny Arnas lewat bukunya Bulan Celurit Api (2010). Tampil dengan warna lokal yang kental, dari sayap etnis Melayu Lubuklinggau, Sumsel. Mendekonstruksi kemapanan adat, mencairkan kebekuan nilai yang taken for granted, dan memaklumatkan bahwa kearifan lokal yang diagung-agungkan itu bukan “benda”, melainkan “peristiwa”, yang terus berubah, dan karena itu selalu  ditunda tafsir tunggalnya. Benny juga memperlihatkan militansi kepengarangan sebagaimana Bamby. Awal Oktober 2010 bukunya turun-cetak, tapi sejak September 2010 ia sudah melakukan direct selling via facebook. Hasilnya  spektakuler untuk ukuran buku sastra, 100 exp BCA  telah terjual, tiga minggu sebelum buku terbit. Pemesanan langsung berdatangan dari Jakarta, Aceh, Makassar, Kalimatan, Yogyakarta, Padang, Medan.  Kabar terkini yang saya terima, Bulan Celurit  Api, bakal cetak-ulang, padahal launching-nya baru akan digelar akhir November mendatang. Ini pun kabar baik bagi sastra Indonesia, khususnya genre cerpen. Mungkin itu sebabnya, sejumlah penerbit yang sebelumnya concern di buku jenis fiksi-islami, kini melirik cerpen sastra. FLP Publishing misalnya, tahun ini menerbitkan Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu (Ragdi F Daye) setelah Cari Aku di  Canti (2008) karya Wa Ode Wulan Ratna, dan Pengantin Subuh (2009), karya Zelfemi Wimra. 

Buku sastra jenis novel agak melemah, baik dari segi produktifitas, aspek kebaruan tema, pencapaian literer, maupun grafik penjualan. Ciuman di Bawah Hujan (Lan Fang) misalnya, meski sebelumnya telah tersiar sebagai Cerbung di sebuah harian nasional, belum terdengar gaungnya. Begitu pula dengan Arumdalu  (Junaedi Setiyono), novel berlatar sejarah laskar Dipanegaran yang bagian pertamanya (Glonggong) menjadi salah satu pemenang sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta, belum berhasil menangguk perhatian pembaca.  Kalaupun ada yang tampak menonjol, itu tidak jauh dari novel jenis “how to”, yang lebih mengedepankan aspek didaktik ketimbang pencapaian estetik. Negeri 5 Menara karya A. Fuadi misalnya, meskipun diluncurkan pada 2009, popularitasnya terus menanjak hingga kini. Penjualannya tentu tak disangsikan, tapi secara estetik, novel ini sukar untuk menjadi bagian dari proses kreatif sastra, yang tegak di atas fondasi estetika. N5M  seolah muncul sebagai Laskar Pelangi dengan wajah baru. Lebih mengejar kekuatan motivasi ketimbang kedalaman gagasan estetik. Motto “man jadda wajada”─terminologi khas pondok modern Gontor, latar tempatan novel itu─yang digembar-gemborkan pengarangnya, membuat ia tampak sebagai motivator ketimbang sastrawan. Lantaran sambutan yang begitu semarak terhadap serial “how to” berkedok karya sastra itu, tengoklah novel-novel bersemangat serupa yang menyesak di toko buku. Para pengekor menangguk laba, sementara unsur-unsur artistik sastra terdistorsi. Buku laku memang tidak berbanding lurus dengan buku bermutu.

Lain halnya dengan dwilogi Padang Bulan, novel terkini Andrea Hirata. Meski masih bergelimang mimpi, harapan, dan obsesi masa depan, novel itu menawarkan kesadaran literer yang berkedalaman. Dengan teknik pengisahan yang dibumbui satirisme khas Melayu, Andrea berupaya memancangkan jejak pikiran, ketimbang sekadar jejak tindakan.  Enong, Ikal, dan Detektif M. Nur adalah karakter orang-orang yang terjangkit gejala keterpelantingan eksistensial, mengingatkan kita pada Eliza, Rose, dan Tao Chien, tokoh-tokoh marjinal dalam The Daughter of Fortune (1999) karya Isabel Allende. Lantaran sukses Laskar Pelangi yang penjualannya nyaris mencapai 1 juta eks, menawarkan corak baru dalam proses kreatif tentulah peluang yang terbuka. Andrea tidak akan sesibuk Bamby dan Benny, dalam merebut perhatian pembaca. Tapi, bukankah setiap pengarang patut memperjuangkan setiap karyanya?

Sumber: Catatan Damhuri Muhammad di facebook
(http://www.facebook.com/note.php?note_id=487696341462)

» Selengkapnya...

MENGGARAMI LAUT KRITIK SASTRA

Maman S Mahayana
Pikiran Rakyat, Khazanah, 28 November 2010
Maman S Mahayana*

Kesalahpahaman atas kritik sastra Indonesia telah membentuk sejarahnya sendiri. Bagaimanapun, latar belakang pendidikan dan tingkat apresiasi setiap pembaca, tidaklah seragam. Maka, simpang-siur pemikiran tentang kritik sastra Indonesia menggelinding, membentangkan perjalanannya yang panjang. Tanggapan atas buku Darah Daging Sastra Indonesia (2010), Damhuri Muhammad, adalah satu contoh. Semangat untuk menghasilkan kritik sastra khas Indonesia tahun 1980-an, juga kesalahpahaman lain lagi. Contoh lain tentu masih dapat kita deretkan. Sejak istilah kritik sastra dilontarkan Sutan Takdir Alisjahbana (Pandji Poestaka, edisi 5, Th. X, Juli 1932), kesalahpahaman itu kerap terjadi hingga menjelma salah kaprah yang lalu diperlakukan seolah-olah sebagai kebenaran.

Esai “Seolah-olah Kritik Sastra” (Pikiran Rakyat, 3 Oktober 2010), substansinya adalah coba menekankan pentingnya keadilan dalam memperlakukan karya. Diingatkan pula perlunya berhati-hati dalam melontarkan istilah dan cermat memanfaatkan sumber, agar tidak terjadi sesat nalar dan salah data. Tetapi apa yang terjadi? Muncul beberapa pandangan yang malah makin menjauhkan panggang dari api. Jadi, kesimpangsiuran gagasan itu menegaskan lagi terjadinya kesalahkaprahan dalam memaknai—memahami—substansi kritik sastra.

Sejak awalnya dan dalam perkembangannya sampai kini, semangat hakiki kritik sastra adalah keadilan yang dapat diterjemahkan lebih luas sebagai proporsional, holistik, menyeluruh, dan objektif. Kritikus hendaklah berperilaku arif ketika menanggapi karya apa pun. Maka, ketika satu istilah diperlakukan untuk merontokkan keseluruhan, jelas hal itu dapat mencederai rasa keadilan. Problem itu pula yang dalam Metode Ganzheit hendak ditekankan, yaitu menempatkan setiap elemen sebagai penyatuan totalitas.
     
Pembaca memang punya kebebasan untuk menanggapi dengan cara apa pun. Tetapi, hak mutlak pembaca itu, patut dibarengi kesadaran untuk bersikap arif dan cerdas yang justru mesti menjadi semangat dasar kritik(us) sastra. Sikap serampangan dalam menulis kritik sastra, tak hanya menunjukkan kerdilnya kecerdasan, tetapi juga cermin kebelummatangan wawasan dan kebeliaan memasuki wilayah yang sesungguhnya baru diketahui kulitnya belaka. Sebagai mualaf tentu saja belajar berhati-hati jauh lebih terpuji. Dalam konteks itulah, pemahaman kesejarahan adalah hal yang mustahak dan penting. Jika ada yang mengingatkan kesalahan elementer itu, sepatutnya pula ditangggapi bukan dengan cara mengulangi kembali ketersesatannya, melainkan dengan memperlakukan catatan masa lalu secara kritis untuk mampu memilah, mana sumber terpercaya, mana fakta yang masih patut dipertanyakan, seperti kisah pertentangan H.B. Jassin dan Chairil Anwar itu. Jadi, eloklah menambah satu atau dua buku pengantar ilmu sejarah. Sebab, tugas kritikus bukan sekadar sebagai Sherlock Holmes yang mesti tetap waspada dan kritis, tetapi juga akurat dalam memilih data agar tak terkecoh oleh fakta yang fiktif atau oleh fiksi yang dimitoskan jadi fakta.
     
Ada tiga faktor utama yang menggelindingkan ketersesatan pemahaman atas kritik sastra Indonesia selama ini: (1) lalai membaca sejarah, (2) salah kaprah memahami hakikat dan tujuan kritik sastra, (3) keliru memahami kategori kritik sastra.
     
Bermula Maret 1932 saat majalah Pandji Poestaka membuka rubrik “Memadjoekan Kesoesasteraan.” Dari sana, kritik sastra teoretis berupa konsep-konsep puisi dengan model estetikanya, melengkapi praktik kritik sastra yang berupa pembahasan sejumlah puisi. Model kritik sastra itu lalu merebak semarak ketika STA hengkang dari majalah itu dan mengelola Poedjangga Baroe. Bahkan, estetika pantun pun muncul di sana sebagai penolakan atas pandangan peneliti Barat yang memperlakukannya dengan estetika puisi Eropa. Esai-esai kritik sastra yang semarak di berbagai media massa tahun 1950-an (baca: Akar Melayu: Ideologi dalam Sastra, 2001; 2010), menunjukkan panorama adanya benang merah pada model esai kritik sastra STA. Tahun 1970-an, meski ada sejumlah suratkabar dan majalah masih memainkan peranan penting, wibawanya di dunia akademik, mulai direbut kritik aliran Rawamangun.Tetapi apa yang terjadi selepas pengaruh Aliran Rawamangun mulai pudar? Seolah-olah terjadi krisis kritik sastra. Padahal, Aliran Rawamangun membangun paradigmanya di lingkungan akademi. Lalu muncul kerinduan pada H.B. Jassin dengan model esai—kritiknya. Jassin sendiri sebenarnya bagian dari kelompok Rawamangun itu. Jelas, ada dua jalur perkembangan: (1) kritik akademis dengan segala kurikulumnya sebagai produk institusi sastra, dan (2) kritik umum yang ditanamkan STA dan dikembangkan Jassin yang medianya majalah dan suratkabar. Begitulah catatan sejarah tentang jalur perkembangan kritik sastra kita. Maka, tak perlulah repot-repot menderetkan berbagai kutipan tentang esai. Bukankah judul buku Jassin yang empat jilid itu tegas menyebut: kritik dan esai.
     
Keinginan menjadi kritikus (sastra) adalah hak segenap manusia. Pendidikan formal lewat institusi hanya sebuah cara. Cara lain dengan latar belakang keilmuan atau wawasan yang juga lain, tentu saja sangat diizinkan—dianjurkan. Semakin ramai orang memasuki bidang ini, semakin bagus pula pengaruhnya bagi perkembangan sastra. Bagaimanapun, institusi sastra tidaklah dimaksudkan semata-mata sebagai lembaga pencetak kritikus (sastra). Bukankah H.B. Jassin sendiri masuk fakultas sastra, justru setelah ia dikenal luas sebagai kritikus dan karyanya bertebaran. Begitu juga doktor (Honoris Causa) yang disandangnya, bukan lantaran capaian akademik, melainkan prestasinya sebagai penggiat sastra. Labelnya sebagai kritikus, bahkan “Paus Sastra” bukan pula klaim dirinya, melainkan penghargaan masyarakat atas kematangan dan kearifannya dalam memperlakukan dunia sastra.
     
Jadi, menulis kritik sastra dapat dilakukan siapa pun. Latar belakang pendidikan adalah alat bantu. Skripsi—disertasi atau esai—resensi hakikatnya sama, yaitu apresiasi atas karya, meski ekornya jatuh pada kebertanggungjawaban ilmiah (kritik akademis) dan kemengaliran (kritik umum).
     
Sejak Plato dan Aristoteles menganalogikan posisi kritikus sebagai hakim yang mesti adil melakukan timbangan (: evaluasi), konsep evaluasi itu terus menggelinding, berkembang biak melahirkan konsep dan istilah baru dengan segala cabang rantingnya. Meski begitu, hakikat dan tujuan kritik sastra tidak bergeser dari semangat awal: melakukan timbangan yang bijaksana dan sekaligus mengungkap kekayaan teks (sastra). Maka, munculnya berbagai pendekatan, semangatnya tidak lain mengungkap kekayaan teks. Itulah hakikat dan tujuan kritik sastra sebagai bentuk apresiasi pada teks. Jadi, resensi, endorsement, atau apa pun namanya, yang dikedepankan adalah semangat apresiatif, dan bukan telaah kritis model skripsi. Itulah yang juga dilakukan Jassin dalam sejumlah kritik—esainya.
     
Kritik sastra yang memperkarakan konsep, metode, aliran, pendekatan atau segala yang berkaitan dengan teori, membentangkan paradigmanya sendiri. Itulah yang disebut kritik sastra teoretis (theoretical criticism). Manakala segala konsep itu coba diaplikasikan pada karya sastra, disebutlah kritik sastra konkret, kritik praktik (practical criticism) atau kritik terapan (applied criticism). Pandangan-pandangan Roman Jakobson, Cleanth Brooks, Roland Barthes, atau STA, Jassin (Aliran Rawamangun), Goenawan Mohamad—Arief Budiman (Metode Ganzheit), atau Ariel Heryanto (Sastra Kontekstual) adalah kategori kritik sastra teoretis. Tentu saja perbincangannya berbeda dengan kritik sastra konkret, meski tak terhindarkan: kerap bersinggungan.
     
Nah, yang terjadi dalam polemik ini –dan sebelum itu sudah berulang kali terjadi—adalah pencampuradukan pengertian antara kritik sastra teoretis dan model kritik praktik. Itulah yang saya maksud dengan sesat nalar. Oleh sebab itu, meski masih mualaf, penting artinya memahami dulu kategori kritik sastra. Maka, klaim diri sebagai pujangga dengan bergincu di balik rangkaian istilah yang terkesan canggih, hakikatnya tak beda dengan menggarami laut.

*Maman S Mahayana, Pengajar FIB-UI. Kini bertugas sebagai Dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea

*http://www.facebook.com/note.php?note_id=460201237211

» Selengkapnya...

Masukan Alamat Emailmu Di Sini:

Pengikut